Budidaya Ikan Air Payau
Budidaya Ikan Air Payau
Ikan nila merah merupakan ikan air tawar dan dikenal sebagai nila merah Taiwan atau hybrid antara Oreochromis hornorum dengan Oreochromis mossambicus yang diberi nama ikan nila merah Florida. Harliwati, 1996 dalam Cholik et al., 2005 mencatat bahwa ikan hibrid tersebut sebagai Oreochromis niloticus Trewavas, bahkan ada yang mengira bahwa nila merah merupakan mutan dari ikan mujair. Dimasukkan ke Indonesia dari Filipina pada tahun 1981 dan pada tahun 1989 dari Thailand, sekarang telah berkembang kehampir seluruh wilayah Indonesia.

Selama ini pengembangan budidaya ikan nila merah di masyarakat tidak banyak menemui kesulitan alasannya nila merah ialah salah satu jenis ikan yang memiliki peluang dikembangkan, budidayanya relatif gampang dengan perkembangan yang relatif cepat, membutuhkan biaya buatan (cost production) yang minim dibandingkan pembudidayaan udang dan ikan kerapu, risiko terkena penyakit atau hama pada ikan nila relatif lebih kecil daripada udang. Di samping itu, mampu dibudidayakan dengan spesies lain seperti polikultur nila merah dan udang vaname.
Produksi nila merah dikala ini masih terbatas untuk menyanggupi permintaan dalam negeri, baik untuk diversifikasi ikan budidaya maupun produksi untuk menyanggupi gizi keluarga. Namun menyaksikan kesempatan dan peluangyang ada, maka tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan secara profesional sehingga mampu dijadikan komoditas ekspor guna memperbesar devisa negara dari sub sektor perikanan.
Umumnya ikan nila merah dibudidayakan di perairan air tawar seperti danau dan sejenisnya dengan metode keramba, tetapi beberapa tahun terakhir metode buatan ikan nila merah terus dikaji dan dikembangkan khususnya dibudidayakan di tambak air payau.
Nila Merah Menarik Dan Bergizi
Ciri-ciri ikan nila merah yaitu tubuh agak lingkaran dan pipih, lisan terletak di ujung kepala, garis rusuk terputus menjadi dua bab dan terletak memanjang dimulai dari atas sirip dada. Jumlah sisik garis rusuk sebanyak 34 buah, warnanya kemerahan polos atau bertotol-totol hitam, dan sering pula berwarna albino (bule). Sebagian pembudidaya adakala dijadikan sebagai ikan hias.
Ikan nila merah memiliki sejumlah kelebihan seperti harga yang cukup mencukupi sekitar Rp 15.000,-/kg dengan ukuran 250-350 g/ekor, dan kandungan proteinnya yang tinggi, rasa daging yang lezat, mudah meningkat biak dan mampu mengikuti keadaan pada kisaran yang lebar terhadap keadaan lingkungan alasannya ikan ini termasuk euryhalin (Cholik et al., 2005); tanggap terhadap pakan buatan, dan mampu dibudidayakan dengan spesies lain. Keunggulan ini menciptakan ikan nila merah relatif gampang diterima penduduk alasannya adalah memiliki potensi pasar yang sangat baik serta menjangkau semua segmen pasar.
Hasil analisis kandungan nutrisi nila merah pada tambak air payau yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 1. Dari Tabel 1 terlihat bahwa hasil analisis menawarkan bahwa kandungan protein tertinggi didapatkan dari tambak percobaan Marana dibandingkan dengan yang didapatkan dari tambak percobaan Takalar.
Baca Juga : 7 Cara Pemasaran Ikan Lele Bagi Pemula Yang Menguntungkan
Perbedaan kandungan protein dan parameter lainnya antar lokasi dimungkinkan oleh perbedaan cara budidayanya. Pada tambak percobaan Takalar dijalankan budidaya secara semiintensif dengan memakai pakan komersil selama pemeliharaan. Sedangkan nila merah yang dibudidayakan di tambak percobaan Marana yaitu teknologi ekstensif (tradisional), adalah cuma mengandalkan pakan alami mirip plankton.

Peluang Budidaya di Air Payau
Untuk pengembangan budidaya nila merah di tambak air payau benih diperoleh dari hasil pembenihan di air tawar. Benih tersebut membutuhkan aklimatisasi/pembiasaan yang sempurna ialah mengoptimalkan salinitas sebesar 5 ppt/hari sampai mencapai salinitas yang dikehendaki untuk berikutnya ditebar ke tambak air payau (Suryati et al., 1991; Hasnidar, 1992). Teknik aklimatisasi dapat memakai rumus (Kenan, 1990 dalam Rahma & Sahidhir, 2010).
V1 x M1 = V2 x M2
di mana:
V1 = Volume air bahari
M1 = Salinitas air laut (35 ppt)
V2 = Volume air tawar
M2 = Salinitas yang diinginkan
Misalnya salinitas yang diharapkan ialah 15 ppt dan salinitas 30 ppt maka perbandingan percampuran air maritim dengan air tawar untuk mendapatkan media bersalinitas yang diinginkan setiap harinya.

Sebelum nila merah (Gambar 1) dipindahkan ke tambak air payau semestinya didederkan terlebih dahulu pada bakbak terkontrol. Pendederan benih ialah tahapan yang sangat penting semoga diperoleh benih yang lebih besar dan berkualitas baik serta lebih sehat untuk ditebar pada budidaya pembesaran. Dari hasil observasi menawarkan bahwa salinitas 0, 10, 20, dan 30 ppt tidak berbeda faktual terhadap sintasan nila merah namun berlawanan faktual terhadap kemajuan (Mansyur & Syamsuddin, 1997). Untuk pendederan menggunakan hapa di dalam tambak, kepadatan benih direkomendasikan 300 ekor/m2.
Baca Juga : 16 Cara Budidaya Ikan Gurame Dikolam Tanah Dan Pembesarannya
Langkah selanjutnya untuk pembesaran di tambak air payau meliputi persiapan tambak seperti, pengolahan tanah dasar dengan hand tractor, pengeringan tanah dasar, pemberantasan hama dengan menggunakan saponin dosis 20 mg/L, dan pengapuran tanah dasar menggunakan dolomit 1.000 kg/ha. Pengisian air untuk persiapan klorinasi bertujuan menetralkan air dan tanah dasar dari bakteri patogen, dengan dosis klorin >20 mg/L.
Dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik untuk penumbuhan makanan alami, dan sesudah itu dilakukan peninggian air >1,0 m untuk persiapan penebaran. Apabila pembesaran nila merah dipolikultur dengan spesies lain seperti rumput laut dan udang vaname maka yang didahulukan adalah penebaran rumput laut (Mangampa et al., 2010). Penebaran rumput laut dilakukan dengan metode apung menggunakan tali ris berjarak 1,0 m dengan jarak simpul 0,50 m. Setiap simpul diikatkan rumput laut sebanyak 50 g dengan ketinggian 0,75 m dari dasar. Setelah rumput laut mulai tumbuh, dilakukan penebaran nila merah masing-masing 6.500 ekor/ha. Selanjutnya dilakukan penebaran tokolan udang vaname > PL-27 (Mangampa et al., 2009) sebanyak
200.000 ekor/ha.
Pemantauan kualitas air perlu dikerjakan, meliputi: suhu, salinitas, transparansi, pH, dan kedalaman air setiap hari, sedangkan plankton, DO, alkalinitas, NH3, H2S, dan PO4 setiap 3-5 hari. Selain itu, juga dikerjakan dukungan pupuk urea dan TSP susulan setiap minggu sebanyak 5%-10% dari pupuk awal guna menjaga kestabilan plankton dalam tambak. Pengapuran susulan berupa dolomit super dilakukan jika observasi kepada pH memperlihatkan variasi yang tidak normal atau alkalinitas menurun. Penambahan air perlu dijalankan bila menyusut sebanyak yang hilang balasan penguapan atau rembesan.
Penggunaan Pakan Buatan
Ikan nila merah ialah ikan omnivora. Di waktu muda ikan ini pemakan plankton, baik plankton nabati maupun hewani. Beranjak dewasa mulai makan detritus dan sering juga alga benang. Ikan nila merah juga tanggap kepada pakan buatan (pelet). Formulasi pakan nila merah mudah dibuat dengan komposisi materi penyusun seperti dedak halus 40%, tepung ikan 20%, tepung jagung 15%, bungkil 10%, tepung kedelai 10%, minyak ikan secukupnya, dan akuamik secukupnya.
Karena ikan nila merah tanggap terhadap pakan bikinan mirip pelet maka pakan nila merah telah banyak beredar di pasaran. Selama pemeliharaan dalam pendederan di hapa dalam tambak diberi pakan produksi berkadar protein 20%-25% sebanyak 2%-3% bobot badannya (Cholik et al., 2005). Ada dua jenis pakan pelet untuk pembesaran nila merah yang sudah beredar di pasaran ialah pakan tenggelam dan pakan terapung. Hasil observasi di keramba jaring apung (KJA) laut (Pongsapan et al., 1993), menawarkan bahwa pakan karam menunjukkan respons pertumbuhan, bikinan, dan rasio konversi pakan yang lebih baik dibanding pakan terapung.

Baca juga : [Panduan Lengkap] 14 Cara Budidaya Ikan Lele Di Kolam Tanah
Produksi dan Analisis Usaha
Menurut Cholik et al. (2005), nila merah jantan memiliki ukuran lebih besar dan laju perkembangan lebih singkat, sehingga banyak petani mengarahkan pada budidaya nila merah jantan. Oleh alasannya adalah itu, para ahli budidaya perikanan telah berupaya membuat teknologi pembenihan nila merah jantan dengan memakai 60 mg hormone methyltestosteron yang diaduk dalam satu kilogram pakan larva.
Proses alih kelamin tersebut berjalan selama 28 hari (Subagyo et al., 1993 dalam Cholik et al., 2005). Selanjutnya dinyatakan bahwa nila merah jantan yang dipelihara dalam KJA laut mampu tumbuh meraih bobot 400 g dari bobot awal 50 g dalam waktu pemeliharaan 3 bulan dan mampu hidup baik pada salinitas 32-35 ppt.
Pembesaran nila merah (Gambar 2) yang dipolikultur dengan udang vaname (Litopenaeus vannamei) dan rumput bahari (Kappaphycus alvarezii) sudah dicoba di tambak air payau secara semi-intensif dengan kurun pemeliharaan 105- 120 hari. Hasil yang diperoleh memberikan buatan nila merah 1.272 kg/ha dan udang vaname 2.192,5 kg/ha; dengan laba yang diperoleh yaitu Rp 20.200.000,-/musim.

Dari Tabel 4 tidak menampakkan keberadaan rumput bahari, Kappaphycus alvarezii yang di ujicoba dengan budidaya polikultur nila merah dan udang vaname di tambak. Hal ini disebabkan alasannya adalah pada akhir observasi tidak didapatkan lagi komoditas rumput maritim Kappaphycus alvarezii. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada bulan pertama hingga memasuki pertengahan bulan kedua (umur pemeliharaan 45 hari), rumput maritim Kappaphycus alvarezii, memberikan pertumbuhan yang baik tetapi sesudah umur pemeliharaan 45 hari,
pertumbuhan menurun balasan aktivitas ikan nila merah, sehingga dalam perkiraan pemasaran belum dimasukkan (Mangampa et al., 2010). Selanjutnya dinyatakan bahwa penggunaan rumput laut, Kappaphycus alvarezii untuk komoditas tambak, perlu dikaji penempatannya dalam tandon tambak intensif yang cukup dalam sebagai biofilter tanpa biofilter lain sebagai pemangsa rumput laut disamping itu, waktu panen rumput bahari perlu diamati.
Baca Juga : 20 Cara Budidaya Ikan Nila Di Kolam Terpal Untuk Pemula Lengkap
KESIMPULAN
- Nila merah yang umumnya dibudidayakan di air tawar ternyata mampu juga dibudidayakan di air bersalinitas tinggi.
- Budidaya nila merah di tambak (salinitas 23-32 ppt) ternyata mampu dipolikultur dengan rumput laut dan udang vaname.
- Dari analisis finansial polikultur nila merah, rumput maritim, dan udang vaname dapat memajukan pemasukan pembudidaya tambak sebesar Rp 20.200.000,-/ha/trend.
- Karena nila merah diperoleh dari pembenihan air tawar dibutuhkan pengetahuan dasar tentang teknik penyesuaian.
- Sebelum nila merah dipindahkan ke tambak air payau sebaiknya didederkan apalagi dulu pada kolam-kolam terkontrol. Pendederan benih ialah tahapan yang sangat penting agar diperoleh benih yang lebih besar dan bermutu baik serta lebih sehat untuk ditebar pada budidaya pembesaran.
Demikian klarifikasi postingan diatas ihwal [ LENGKAP ] Budidaya Ikan Air Payau – Jenis, Ciri Dan Gambarnya agar bermanfaat bagi semua pembaca Lahan.Co.Id
Comments
Post a Comment